(Kontribusi KA Arizal Wahyudi dan begalor.com, merupakan materi sejarah dan budaya yang kerap di diskusikan)
Suku Sawang yang kita kenal sekarang adalah juga bagian dari beberapa suku "urang laut" yang penyebarannya meliputi dari laut China Selatan hingga Pulau Belitung. Di kawasan Perairan Riau hingga Selatan Belitung, mereka menjadi suku yang dominan menguasai laut pada zamannya. Abad ke 17 mereka dikendalikan beberapa Penguasa wilayah setempat. Urang-urang (orang orang) laut itu terkenal dengan kegiatan perompakan, suku yang terkenal di masa itu suku Lanoa yang disebut Lanun berasal dari Teluk Lanoa, Sulu Filipina. Sejarah panjang suku laut yang membuat mereka mengganas menjadi perompak adalah saat Spanyol menguasai tanah air mereka di Filipina Selatan tahun 1521. Menurut sesepuh suku sawang bang Deris yang bertempat tinggal di Jalan Baru Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Ada 4 suku laut pernah bermukim di Pulau Belitong yaitu Suku Uline, Suku Juru, Suku Lingga dan Suku Sawang, tapi yang paling banyak jumlahnya adalah Suku Sawang. Mereka memang hidup nomaden/ berpindah-pindah hingga tahun 1985 pemerintah Kabupaten Belitung membuat pemukiman untuk suku Sawang ini di Tanjungpandan yaitu di sekitar Jalan Baru dan di Seberang, demikian juga di Gantung (baca ; gantong) mereka diberikan pemukiman berupa bangunan berbentuk bedeng. Asal dari Suku ini memang dari ke pulauan Riau terutama dulu tempat mereka berkumpul adalah Pulau Galang. di zaman kesultanan Riau mereka ditugaskan menjaga Selat Malaka sebab suku laut ini mahir dalam navigasi laut. Kesenian yang mereka bawa serta lestarikan seperti syair pantun campak laut (diluruskan dari sesepuh Suku Sawang tarian Ketimong Burong) dari syair ini bisa diterjemahkan cerita-cerita seputaran kehidupan mereka dilaut dan masa kesultanan Riau. demikian juga dengan tari-tarianya benyak bercerita seputran kehidupanya. Tapi kita hanya mengenal tari Aktraktif suku laut ini yaitu Ancak dan Upacaranya Buang Jong yang terkadang menjadi Ikon kebudayaan Pulau Belitong serta digelar diberbagai Festival. (rekaman suku sawang acara khatulistiwa sudah dalam bentuk DVD sebagai perwujutan penghargaan buat Bang Deris sesepuh suku Sawang). Tapi betapa ironisnya ketika mereka mengutarakan bahwa kata Sekak bagi mereka adalah sebuah penghinaan, Sekak sama seperti kegiatan membelah kerang dan juga di konotasikan dalam bentuk lain (maaf alat kelamin wanita) begitu menurut Bang Deris yang bermukim dikawasan Jalan baru Tanjungpandan. Namun di Pilipina juga terdapat suku laut yang dinamakan Sekai mereka memganas ketika daerah mereka dikuasai oleh spayol di erah abad 17 dan menjadi bajak laut. Suku Sawang adalah penyelam yang tangguh terutama yang bermukim di daerah seberang Tanjungpandan, biasanya mereka mengambil tripang dikedalaman laut, tapi sayang hidup mereka tak ter-tata dalam soal keungan, kehidupan mereka sangat royal (boros) ada uang bisa langsung habis ini disebabkan mereka percaya bahwa laut sangat kaya dan bisa memberikan kehidupan jadi mereka tak perduli hari ini nikmati hidup untuk kesenangan besok dicari lagi yang penting tak ada hutang mereka takut sama berhutang, leluhur mereka yang dulunya hidup nomaden berpindah-pindah takut meninggalkan hutang disuatu tempat..Tapi kini mereka sudah berbaur dengan masyakarat dan tak ada perbedaan lagi di sela-sela waktu luang Bang Deris terkadang masih didengar di Stasiun Radio bersama komunitas Baro Begado Usni Maryosa membahas Budaya dan ke aslian_nya di Pulau Belitong Tanjungpandan. |